Rabu, 20 Juli 2011

SEJARAH PERANG CINA DI LASEM


PERANG CINA 1742 DAN 1750 DI LASEM

Pada tahun 1679, Lasem sebagai Bagian dari kerajaan Mataram diserang oleh VOC yang ingin mendapatkan monopoli perdagangan dipesisir pantai utara Jawa. VOC dibantu oleh Sunan Amangkurat II akhirnya dapat menaklukan Lasem setelah melalui peperangan yang berlangsung lama dan berlarut-larut. Hal ini akhirnya  menimbulkan kebencian warga Lasem ( Warga Pribumi maupun Tionghoa telah membaur waktu itu ) terhadap Belanda maupun penguasa Mataram sebagai boneka VOC.

Pada tahun 1714, Sunan Pakubuwono I mengangkat Pangeran Tejakusuma V menjadi Adipati Lasem. Ia tak menyukai Sunan Pakubowono I maupun penggantinya yaitu Sunan Pakubowono II yang sangat erat dengan VOC. Diam-diam beliau banyak membantu Arya Mataram dan Prabu Purbaya melawan VOC dan Penguasa Mataram.

Setelah pembrontak Mataram semakin surut maka pada tahun 1727 Prabu Tejakusuma V mengundurkan diri dengan alasan kesehatan dan mulai tuli. Putranya Raden Panji Margana tidak berkeinginan menjadi Adipati Lasem, ia lebih memilih menjadi pengusaha pertanian dan pelayaran.

 Akhirnya jabatan Bupati Lasem diserahkan kepada sahabat karibnya yang bernama Oey Ing Kiat seorang Pengusaha Tionghoa Islam yang sangat kaya, pengusaha pelayaran yang mempunyai banyak sekali jung dan perahu antar pulau. Oey Ing Kiat dilantik menjadi Adipati Lasem pada tahuan 1727 oleh Sunan Pakubowono II dan diberi gelar Tumenggung Widyaningrat. Oey Ing Kiat adalah keturunan Bi Nang Oen, salah seorang juru mudi armada Laksamana Ceng Ho yang mendarat di Bonang-Lasem. Bi Nang Oen seorang pujangga dari Campa dan penyebar agama Islam di Lasem pada awal abad ke XV.

Pada tahun 1740 , akibat pembantaian orang Tionghoa di Batavia, kurang lebih 1.000 orang Tionghoa Batavia lari dan mengungsi di Lasem sehingga penduduk Tionghoa Lasem naik hampir dua kali lipat. Pada tahun 1741, akibat kerusuhan di Kartasura, Ngawi dan banyak kota di Jawa Tengah banyak orang Tionghoa mengungsi ke Lasem. Adipati Widyaningrat mengajak Raden Panji Margana untuk melindungi para pengungsi dan beliau langsung menyetujui mengingat Raden Panji Margana sangat benci Belanda dan juga pada Sunan Pakubuwono II. Untuk itu Raden Panji Margana menguruk rawa Sambong dan Narukan di barat kota Lasem menjadi pemukiman para pengungsi.



Para pengungsi Tionghoa dan juga warga Lasem yang dendam kepada VOC akhirnya sepakat mengangkat senjata untuk mengusir VOC dari pulau Jawa dan akhirnya mereka sepakat mengangkat tiga serangkai pemimpin pembrontakan terhadap VOC, yaitu :
1.    Raden  Panji  Margana   yang  akan   menyamar  sebagai  orang  Tionghoa  dengan  nama Tan Pan Ciang  dan  berpakaian  baju  hitam celana pangsi hitam seperti pendekar kungfu pada waktu itu.
2.    Tan Kee Wie seorang pengusaha tambak ikan dan pembuat ubin terra-cotta yang gemar berderma untuk fakir miskin, juga adalah pendekar kungfu kota Lasem.
3.     Raden Ngabehi Widyaningrat – Tumenggung Lasem alias Oey Ing Kiat.

Penyerangan oleh Pembrontak Lasem ini dibagi menjadi dua kelompok, kelompok penyerang dari Laut dipimpin oleh Tan Kee Wie dan kelompok penyerangan jalan kaki dipimpin oleh  Raden Panji Margana dan Raden Ngabehi Widyaningrat. Pada awalnya dibantu oleh Pembrontak dari Dresi dan Jangkungan mereka menyerang tangsi Belanda di Rembang. Tangsi tersebut berhasil diporak porandakan serta banyak serdadu Belanda dan kaki tangannya terbunuh. Kemudian dari Rembang mereka bergerak ke Barat dengan menyerang tangsi Belanda di Timur sungai Juwana. Dalam penyerangan ini mereka dibantu  pembrontak Tionghoa dan Jawa dari Purwodadi. Pertahanan Belanda di Juwana ini sudah diperkuat dengan senapan api dan meriam VOC dari Semarang sehingga pada serangan pertama pada siang hari mereka gagal.

Pada penyerangan kedua menjelang subuh esok harinya dari arah selatan dengan memakai rakit bambu dan batang pisang melalui sungai Juwana mereka dapat merebut tangsi tersebut. Keesokan harinya datang lagi bala bantuan VOC dari Semarang  yang mengakibatkan kerugian besar dipihak pembrontak tetapi akhirnya kemenangan dapat diraih mereka.

Dari kota Juwana mereka hendak menyerang tangsi Belanda di Jepara. Tan Kee Wie dengan armada Jung dan perahu berangkat dari Dresi, sampai dipesisir Tayu mereka dapat tambahan orang Tionghoa Tayu yang juga sudah siap ingin ikut menyerang Belanda di Jepara. Malang tak terelakkan karena sewaktu jung yang dinaiki Tan Kee Wie melewati celah antara Ujung Watu dan Pulau Madalika ditembaki meriam Belanda dari dua sisi sehingga jung tersebut pecah kena peluru meriam dan beliau tewas ditengah laut ( 5 Nopember 1742 ) .

Sisa armada Lasem yang selamat berbalik arah ke timur dan mendarat di timur Ujung Watu, melalui hutan Danareja mereka menyerang Belanda di Ujung Watu pada esok pagi buta.

Pada penyerangan ini hanya sebagian kecil serdadu Belanda yang bisa lolos lari ke Jepara sedangkan yang lainnya terbunuh. Karena kekuatan pembrontak di Ujung Watu tinggal sedikit, akhirnya mereka memutuskan kembali ke Lasem lewat laut sambil membawa rampasan senapan, amunisi dan senjata lainnya.

Untuk menghormati kepahlawanan Tan Kee Wie dan rekan-rekan mereka yang gugur maka dibuatlah prasasti batu granit berukir ditempatkan pada batas tembok Tan Kee Wie di Batok Mimi yaitu bagian kiri dari muara sungai Paturen yang membelah kota Lasem.

Di Juwana pembrontak Lasem mendapat lagi bantuan dari selatan yaitu dari Jaken dan Kawak yang dipimpin oleh Ki Ageng Sukawangi ( beliau adalah keturunan Adipati Lasem pada abad ke 15, Mpu Santibadra ).  Di  Juwana  ini  mereka  diserang  dari  timur oleh prajurit sewaan dari Madura  ( Adipati Cakraningrat ) dan prajurit bayaran dari Tuban. Pembrontak Lasem akhirnya mengalami kekalahan besar di Juwana, sisa-sisanya tercerai berai.

Raden Panji Margana bersama pengawalnya Galiyo melepas baju hitamnya dan menukarnya dengan pakaian rakyat biasa di desa Raci. Berdua mereka membeli peralatan dapur bekas dari tembaga yang mereka pergunakan dalam penyamaran sebagai tukang loak barang tembaga dalam perjalanan kembali ke Lasem.

Dengan selamat mereka berdua sampai di Lasem, tetapi Raden Panji Margana dilanda rasa kecewa berat / frustasi sehingga beliau sakit berbulan-bulan . Tetapi kondisi ini pula akhirnya menjadi dewa penyelamat karena VOC menjadi tak curiga bahwa beliau pernah menjadi pemimipin pembrontak di Rembang dan Juwana.

Bila Raden Panji Margana kembali ke Lasem, Adipati Widyaningrat melepas pakaian hitamnya dan menyamar menjadi orang Jawa. Beliau hendak pergi ke Kartasura dengan mengaku sebagai penduduk Kartasura yang berprofesi sebagai pedagang gamelan buatan Lasem dan hendak kembali ke Kartasura karena terhalang perang di Juwana. Sesampainya di Kartasura beliau melapor ke Sunan Pakubuwono II bahwa ia  lari dari Lasem karena hendak dibunuh oleh kaum pembrontak.

Setelah keadaan tenang Oey Ing Kiat kembali ke Lasem dan oleh Sunan Pakubuwono II kedudukannya sebagai Adipati Lasem dicabut dan oleh VOC ia hanya diberi kekuasaan mengatur orang Tionghoa Lasem dengan pangkat Mayor.

Dikisahkan dua putra Raden Panji Sumilir seorang sesepuh masyarakat Lasem yaitu Raden Panji Suryakusuma dan Raden Panji Suradilaga bertempat dibekas candi Malad ( candi untuk menyimpan abu leluhur ) bersumpah untuk membunuh bupati Suro III dan mengusir bangsa Belanda.

Pada Agustus 1750 Raden Panji Margana mendengar bahwa pembrontak di Argosoka hendak mengangkat senjata maka semangatnya untuk melawan Belanda timbul kembali . Pada suatu hari Kamis Raden Panji Margana meminta agar masyarakat Lasem berkumpul, pada hari Jum’at esok harinya di alun-alun didepan masjid Lasem sembahyang Jum’at tersebut dipimpin oleh Imam Kyai Ali Badawi seorang ulama keturunan Mpu Santibadra . Setelah selesai bersembahyang ia mengumumkan mengajak umat Islam Lasem perang jihad mengusir Belanda dan antek-anteknya dari bumi Rembang bergabung dengan pembrontak Tionghoa dari gunung Argasoka.

Raden Panji Layakusuma seorang pendekar dari desa Gada dibantu Ki Ageng Dapa ( keturunan Mpu Santibadra ) memimpin pembrontak dari Gada, Kasareman, Badeg dan Ngadem menyerang Rembang dari arah selatan.  Pembrontak dari arah Pamotan dan Sedan yang dipimpin oleh Nayagimbal sudah mendahului menyerang VOC di Rembang tertangkap di desa Tireman.

Rencana penyerangan Rembang ini rupanya bocor dua minggu sebelum penyerangan terjadi, VOC dan Adipati Suroadimenggolo III mengungsikan anggota keluarganya ke Jepara dan Semarang via laut serta minta bantuan serdadu dari sana dan juga bantuan dari bupati bupati yang sudah mengabdi pada VOC.

Bantuan prajurit dari Bupati Tuban dipimpin oleh Tumenggung Citrasoma menurunkan prajuritnya di Bonang dan Leran dan dihadang oleh pembrontak Argasoka pimpinan Raden Panji Suryakusuma. Perang ini berlangsung sampai di Karangpace dan Gombong.

Sebagai pengganti Raden Ngabehi Widyaningrat, Gubernur Jenderal VOC Baron Von Imhoff mengangkat Suroadimenggolo III dari Semarang sebagai Adipati Lasem. Ia berwatak kasar, suka menghina, sok suci dan sewenang-wenang. Ia tinggal di Tulis ( Barat Lasem ) dimana VOC juga membangun benteng disana, hal ini untuk resiko perlawanan orang Tionghoa.

Pada bulan Nopember 1743, di Dresi orang-orang Tionghoa yang hidupnya telah membaur dengan penduduk Jawa asli dipaksa VOC pindah tinggal di tengah kota dan dilarang bergaul dengan penduduk asli dan mereka diawasi secara ketat. Mereka disuruh berdagang hasil bumi yang hasilnya harus disetorkan kepada pihak VOC. Mereka juga diserahi sebagai tukang terima gadai, penjual candu dan garam milik VOC. 
Lasem 1747, rakyat Lasem dikumpulkan dan diancam :
  1. Siapa-siapa yang bersengkokol dengan pemberontak akan disiksa sampai mati.
  2. Dilarang menyimpan kitab-kitab suci Hindu Syiwa, Budha, Pustaka Sabda Badrasanti                    ( Babad Bumi Lasem ) dan catatan - catatan heroisme pembrontak dan menyerahkannya ke Kabupaten. Barang siapa yang masih menyimpan akan dihukum cambuk dua puluh lima kali.
  3. Candi-candi di Lasem harus dibongkar dan patung-patungnya dihancurkan.
 Alhasil ribuan kitab dan buku lontar berhasil dikumpulkan di alun-alun dan dibakar, kecuali
kitab-kitab yang berada di kediaman Raden Panji Margana.

Pada tahun 1748, candi-candi di Lasem mulai dihancurkan dan hal ini memicu kemarahan masyarakat Lasem dan mereka sepakat untuk membunuh Suroadimenggolo III.

Suroadimenggolo III mengetahui bahwa nyawanya terancam dan pembrontak Lasem yang bersembunyi di hutan gunung Argosoko, barat kota Lasem mau bergerak lagi, maka dia memutuskan pindah ke Magersari – Rembang.  Begitu pula VOC memindahkan benteng Tulis ke Rembang.

Tentara VOC dari Jepara menyusup dari laut sampai di Layur ( barat sungai Paturenan sebelah utara Lasem ). Mereka dihadang  oleh pembrontak Lasem dibawah pimpinan Mayor Oey Ing Kiat yang mempunyai banyak senapan dan meriam hasil rampasan. Senjata-senjata tersebut disembunyikan dalam terowongan yang digali ditepi sungai Paturenan.

Di timur sungai Paturenan sebelah utara Lasem, serdadu VOC dan prajurit Citrasoma dihadang oleh pembrontak Lasem yang dipimpin oleh Kyai Badawi.  Bala sabil ini menggunakan ilmu kanuragan  ” PETAK SEGARA MACAN ”  yang mana ilmu ini membuat orang tak dapat terluka oleh senjata tajam.

Tetapi banyak bala sabil yang mati dihantam peluru meriam yang ditembakkan Belanda dari kapalnya. Dibarat Lasem yaitu di Narukan dan Karangpace sampai ke utara dipinggir laut, pembrontak dibawah pimpinan Raden Panji Margana bertempur dengan serdadu Belanda dan antek-anteknya, bertempur jarak dekat satu lawan satu.

Perang disini tak memakai senapan karena tak cukup waktu untuk mengisi mesiu dan peluru. Di Narukan ini lambung sebelah kiri Raden Panji Margana terluka oleh pedang sehingga sebagian ususnya keluar. Beliau dibawa mundur oleh Ki Mursada yang kemudian digendong oleh Ki Galiya ( pengawal pribadinya ) dibawa lari dengan dilindungi oleh Ki Mursada yang terus memainkan  jurus-jurus goloknya.

        Sesampainya ditempat sepi , di utara Gombong, mereka berhenti untuk merawat luka  Raden Panji Margana yang banyak mengeluarkan darah yang akhirnya Raden Panji Margana meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia beliau meninggalkan pesan-pesan sebagai berikut :

  1. Agar jenasahnya dikubur dibawah pohon trenggulun di desa Sambong dan kuburannya tanpa gundukan tanah dan batu nisan.
  2. Istri dan anak-anaknya diungsikan ke Narukan.
  3. Buku  -  buku  suci  dan  Pustaka  Badrasanti  koleksinya  agar  dititipkan  pada  Ki Badraguna ( lurah Criwik )
  4. Tembang sinom gubahannya sewaktu pulang dari perang Juwana agar dilestarikan sebagai kidung para dalang dan pesinden Lasem.
Apabila pembrontak dari Gada yang dipimpin oleh Raden Panji Mlayakusuma bertarung dengan Kompeni di Padang Kali Untu, maka pembrontak bantuan dari Ngadem dan Badeg berhadapan dengan prajurit Kompeni dari Blora di Besi., Raden Panji Mlayakusuma mengirim tim penyusup ke Rembang  yang menyamar sebagai penjual air sambil membawa rawe dan getah pohon rengas yang gatal untuk dimasukan ke dalam sumur prajurit-prajurit kaki tangan Belanda dan sumur tangsi Belanda.

Sore hari sewaktu prajurit Belanda dan begundalnya mandi, mereka merasa gatal pada kulit, sehingga melepuh. Malamnya pembrontak Lasem dibawah Raden Panji  Mlayakusuma membakar tangsi mereka sewaktu masih kegatalan. Kepanikan prajurit Belanda disambut dengan pedang parang Lasem, korban dipihak Belanda mencapai ratusan orang. Setelah itu pembrontak Lasem menghilang masuk ke perkampungan penduduk.

Ki Noyosentono lurah Waru, penasehat Bupati Suroadimenggolo III yang terkenal sakti dengan ajian ” PANGLIMUNAN ”  setelah mendengar bahwa Raden Panji Mlayakusuma yang bekas atasannya ikut memimpin pembrontak Lasem membela Pangeran Talbaya, beliau membangkang tak mau lagi menjadi abdi Bupati Suroadimenggolo III. Ia memerintahkan semua keluarga dan abdinya ikut beliau melarikan diri ke Gunung Kendeng Blora, mengungsi di dukuh Loh Gede dimana pamannya tinggal.

Setelah menyerahkan keluarganya pada lurah Loh Gede, ia bersama penduduk Loh Gede yang mendukungnya bergabung dengan pembrontak dari Babadan dan Pengkol yang dipimpin oleh Ki Noyogembong adik dari Ki Noyosentono.

Prajurit Belanda dari Pati dan Juwana bertemu / bertempur dengan pembrontak Pengkol di Sekengkeng dan Rumbut Malang dan juga di Bukit Cering. Prajurit Belanda dengan senapan dan meriam dalam jumlah besar, tembakannya membuat kebakaran rumah di Dresi dan korban dipihak  pembrontak cukup besar, tembakannya membuat Pengkol yang menyusup ke Timur lewat Cering banyak yang tewas.

Alkisah di medan perang Layur, Mayor Oey Ing Kiat ketika mendengar berita bahwa Raden Panji Margana telah meninggal karena luka di Karang Pace sangat marah sambil berteriak-teriak : ” Aku ingin mati menyusul saudaraku Den Panji dan saudaraku Tan Kee Wie ”.

Dengan membawa pedang pusaka Naga Gak Sow Bun nekad maju menyusup kedepan kemedan perang. Desing peluru dan ledakan peluru meriam tak membuat ciut nyalinya. Banyak prajurit Belanda tewas di tangannya. Karena amarah yang tak terkendali membuat hilang kewaspadaannya dan beliau tertembak dadanya oleh serdadu bayaran Belanda dari Ambon.

Dengan mendekap dadanya yang terluka, Oey Ing Kiat mundur dari medan perang. Dibelakang medan perang ia ambruk dan meninggalkan pesan kepada yang mengelilinginya agar jasadnya dikubur dilereng puncak gunung Bugel dan menghadap barat. Makamnya hendaknya ditandai dengan dayung perahu dan pohon beringin dan lokasinya dirahasiakan kecuali hanya keluarga yang tahu. Jenasahnya dibawa ke Warugunung di rumah istri mudanya (putri Bupati Tuban) untuk dibersihkan dan dimakamkan ditempat yang dimintanya.

Dengan istri mudanya ini Oey Ing Kiat mempunyai tiga  putra  putri yaitu : Sudana, Suparing dan Sudriyah. Nantinya Sudana menjadi asisten lurah di Warugunung  dan saudaranya yang lain beranak pinak di Gunung Bugel.

Setelah padamnya pembrontakan warga Lasem, rumah Raden Panji Margana disita Belanda dan pada Januari 1751 rumah tersebut ditinggali Mr. Happen ( kontrolir Belanda ).
Rumah Oey Ing Kiat dipakai oleh keponakannya yang diangkat Belanda sebagai Kapiten Tituler Lasem serta Jung dan perahu-perahunya disita oleh Belanda.

Bupati Suroadimenggolo III dikembalikan ke Semarang karena dianggap gagal menentramkan warga Lasem, sebagai gantinya Tumenggung Citrasoma diangkat menjadi Bupati Lasem serta tinggal di Binangun – Bonang yang masyarakatnya pro ke Belanda . Akibat perang pembrontakan ini ribuan warga pribumi dan Tionghoa Lasem terbunuh.

Setelah kota Lasem tenang, maka pada tahun 1780 di desa Babagan masyarakat Tionghoa mendirikan monumen untuk mengenang jasa ketiga pemimpin tersebut berupa sebuah Klenteng untuk memuliakan pahlawannya. Oleh masyarakat Tionghoa di Rembang dan Juwana pahlawan-pahlawan ini  dimuliakan pula dengan memasang patung pahlawan tersebut di Klenteng mereka.

Adalah tugas dari para arkeolog dan masyarakat Lasem sekarang mencari dan menemukan batu prasasti yang dulu diletakkan di tambak Batok Mimi karena batu prasasti ini adalah salah satu bukti otentik dari kisah perlawanan heroik masyarakat Lasem, Rembang, Juwana dan sekitarnya dalam bahu-membahu tanpa memandang agama dan etnik bersatu melawan VOC.


Cerita ini disadur dan diterjemahkan dari Kitab Badrasanti dengan harapan saduran ini dapat menggugah hati masyarakat ketiga kota tersebut untuk bersatu padu memerangi kemiskinan dan kebodohan yang masih melilit sebagian besar masyarakat disana.


-------------------- oooooOooooo --------------------

SEJARAH KLENTENG TJOE AN KIONG LASEM

KLENTENG TJOE AN KIONG LASEM
DAN
DEWATA PELINDUNG PELAUT
TIAN SHANG SHENG MU

Tian Shang Sheng Mu ( Thian Siang Sing Bo – Hokkian ) dikenal juga dengan sebutan  Ma Zu atau Tian Hou. Tian Shang Sheng Mu adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fu Jian, tepatnya di pulau Mei Zhou dekat Pu Tian, namanya Lin Mo Niang (Lim Bik Nio-Hokkian). Ayahnya Lin Yuan, pernah menduduki jabatan sebagai ” Pengurus ” di Propinsi Fu-Jian.

Karena kehidupannya yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebutnya sebagai ”Lin San Ren” yang berarti  ”Lin, orang yang baik”, Mo Niang dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian Long pertama, bulan 3 tanggal 23 Imlik, ( tahun 960 Masehi ) malam hari. Selama sebulan sejak dilahirkan, ia tidak pernah menangis sama sekali, sebab itulah ayahnya memberi nama ”Mo Niang” kepadanya ” Mo Niang ” Huruf ”Mo” berarti ”diam” .

Sejak kecil Lin Mo Niang ( Lim Bik Nio – Hokkin ) telah menujukkan kecerdasan yang  luar biasa. Pada usia 7 tahun ia telah masuk sekolah, dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan. Kecuali belajar, ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tuanya, dan suka menolong tetangga-tetangganya yang sedang dirundung malang. Sebab itu penduduk desa sangat menghormatinya.

Konon Tai Shang Lao Jun memberikan sebuah kitab suci rahasia. Dari kitab itulah kemudian Lin Mo Niang belajar banyak ilmu gaib untuk mengusir roh-roh jahat dan menolong para nelayan yang sedang mengalami musibah ditengah lautan. Ia faham sekali ilmu falak dan peredaran cuaca, sebab itu ia dapat mendatangkan hujan pada saat kekeringan. Kehidupan ditepi laut menempanya menjadi seorang gadis yang tak gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin taufan yang menghantui para pelaut. Kecuali itu, ia dapat juga menyembuhkan orang sakit, kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang desanya menyebutnya sebagai ” Ling Nu ” yang berarti     ” gadis mukjijat ” , ” Long Nii ” atau ” gadis Naga ” dan ” Shen Gu  ” atau bibi yang sakti ” .

Dalam legenda diceritakan, bahwa dalam usia 23 tahun, ia berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Ketua siluman itu, yaitu Qian Li Yan yang dapat melihat sejauh ribuan Li, dan Sun Feng Er yang dapat mendengar ribuan pal, akhirnya menjadi pengawalnya. Selanjutnya wanita sakti ini banyak membantu rakyat membasmi kejahatan dan menolong kapal-kapal yang diserang badai. Karena perbuatan-perbuatan mulia inilah namanya segera terkenanl diseluruh propinsi.

Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Yong-Xi ke 4, tanggal 16 bulan 2 Imlik, bersama ayahnya ia berlayar. Tapi ditengah jalan perahunya dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatannya ia berusaha menolong ayahnya, tapi akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa ia tidak tewas, tapi ” diangkat ke langit ” bersama raganya. Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Mei-Zhou melihat bahwa awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya, diangkasa terdengar tetabuhan yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang diangkat ke surga, setahun kemudian. Tahun kenaikkannya ini jatuh pada tahun 987 Masehi, tepat 1000 tahun yang lalu. Kelenteng yang didirikan di Mei-Zhou ini merupakan kelenteng pemujaan Tian Shang Sheng Mu Yang pertama di Tiongkok.

Pada masa dinasti Song, perdagangan maritim dari propinsi Fujian sangat berkembang. Tapi para pelaut sadar bahwa hidup ditengah lautan selalu penuh dengan mara bahaya yang bisa mengancam setiap saat. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan, maka Lin Mo Niang kemudian dianggap sebagai Dewi Pelindung Para Pelaut. Dan kemana-mana patungnya selalu dibawa serta. Keselamatan mereka dalam pelayaran dianggap anugerah dan perlindungan dari Dewi ini. Dan kisah-kisah tentang pemunculan sang Dewi dalam memberi pertolongan pada para pelaut mulai satu persatu tersebar. Pada tahun 1122 Masehi, Kaisar Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri yang bernama Lu Yun Di untuk menjadi Duta ke Negeri Gaoli ( Korea sekarang ).

Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai, dari 8 buah kapal yang dinaiki 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang ditumpangi oleh Lu Yun Di saja yang terselamatkan.

Sang Duta heran bukan main, ia bertanya pada anak buahnya siapakah dewa yang telah menyelamatkan mereka. Diantaranya pengiringnya  itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian dan biasa bersembahyang kepada Dewi Ma Zu ini. Ia lalu mengatakan pada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi yang berasal dari Pulau Mei-Zhou yaitu Lin Mo Niang atau yang sering disebut Ma Zu. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini pada Kaisar Song Hui Zong. Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar ” Sun-Ji Fu Ren ” kepada Lin Mo Niang dan sebuah papan yang bertuliskan ”Sun-Ji” yang berarti ” pertolongan yang sangat dibutuhkan ”, hasil tulisan tangan sang Kaisar lalu dipasang di Kelenteng di Mei-Zhou. Sejak itulah pemujaan terhadap Ma Zu mulai mendapat pengakuan resmi dari kerajaan. Sejak jaman Dinasti Song sampai Qing, tidak kurang dari 28 gelar kehormatan telah dianugerahkan oleh kerajaan kepada Ma Zu. Gelar-gelar itu antara lain adalah Fu Ren Yang berarti Njonya Agung. Tian Hou atau Tian Fei yang berarti ” Permaisuri Sorgawi ” Tian Shang Sheng Mu atau Bunda Suci dari langit dan Ma Zu Po yang berarti Bunda Ma Zu.

Sejak jaman Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok timur yang memanjang dari utara ke selatan seperti Dan-Dong, Yan-tai, Qinhuang-dao, Tian-jin,  Shang-hai, Ning-po, Hang-zhou, Fu-zhou, Xian-men, Ghuang-Zhou, Macao dan lain-lain bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Lautan ini. Ma Zu sudah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Mei-Zhou saja. Sudah menjadi kebiasaan pada waktu itu, sebelum pelayaran dimulai, diadakan sembahyang besar untuk mohon perlindungan. Pada tiap-tiap kapal pun selalu disediakan ruang pemujaan untuk patungnya. Pelaut kenamaan pada jaman dinasti Ming, Zheng He yang dikenal dengan sebutan San Bao Da Ren ( Sam Po Tai Jin – Hokkian ), walaupun seorang Islam, tidak melupakan kebiasaan ini. Tujuh kali Zheng He memimpin armada besar yang terdiri dari puluhan kapal, mengunjungi perbagai negeri Asia dan Afrika . Tiap kali akan memulai pelayarannya, ia selalu memimpin upacara sembahyang besar untuk mohon perlindungan akan keselamatan perjalanan kepada Tian Shang Seng Mu atau Ma Zu. Pada tahun ke tujuh pemerintahan Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming ( 1409 Masehi ), dalam pelayarannya yang ketiga kali, Zheng He menyempatkan diri dengan perintah Kaisar untuk bersembahyang di Kelenteng Ma Zu di pulau Mei-Zhou. Sebuah prasasti peninggalan Zheng He yang terdapat di Zhang-Le, Propinsi Fu-Jian, secara teliti menyebutkan bahwa keselamatan perjalanannya sampai ia berhasil menyelesaikan tugas melakukan kunjungan muhibah ke negeri asing sebanyak tujuh kali, adalah berkat kemujijatan dan perlindungan Tian Shang Seng Mu.

Gelar ” Tian Fei ” di anugerahkan kepada Ma Zu juga pada jaman Dinasti Ming pada pemerintahan Kaisar Yong Le berkat perlindungannya pada armada  Zheng He. Kira-kira pada jaman Ming inilah, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk propinsi Fujian yang pergi merantau, pemujaan kepada Ma Zu memasuki pulau Taiwan . Kelenteng Ma Zu tertua di wilayah propinsi Taiwan adalah yang terdapat di kota Ma Gong, kepulauan Penghu. Dewasa ini di Taiwan terdapat tidak kurang dari 800 buah Kelenteng Ma Zu, dan hampir dua pertiga penduduknya memuja arcanya di dalam rumah. Kelenteng Ma Zu yang paling ramai dikunjungi orang dan mungkin terbesar di Taiwan adalah di Bei-Gang, patung Tian Fei yang dipuja disini berasal dari Mei-Zhou yang dibawa kesana pada tahun ke 33 pemerintahan Kaisar Kang Xi Gelar kehormatan ” Tian Hou ” adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan. Dengan demikian Bei-gang dianggap sebagai tempat suci bagi pemujaan Ma Zu. Tiap tahun bertepatan dengan Ulang Tahunnya yang jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imliek, ratusan ribu warga Taiwan membanjiri kota ini untuk berjiarah.

Pemujaan kepada Ma Zu, bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa berbagai tempat, juga bermunculan di banyak negeri. Di Negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Indonesia, Philipina dan lain-lain, dimana banyak bermukim para Tinghoa perantau banyak dijumpai Kelenteng Ma Zu. Di Jepang pemujaan  Ma Zu diperkirakan mulai pada akhir Dinasti Ming. Disalah satu kota kecil yang dalam bahasa Tionghoa disebut Sui-hu, di Jepang, Ma Zu telah dimasukkan dalam jajaran Dewata Jepang dan di puja di kuil utama kota itu.

Di Jepang terdapat tidak kurang dari 100 buah kuil  Ma Zu.

Bersamaan dengan datangnya orang Tionghoa di Lasem pada permulaan abad 15 diperkirakan kelenteng yang sekarang ini kita kenal dengan nama Ci An Gong ( atau Cu An Kiong yang berarti Istana Ketentraman Bunda ) mulaii didirikan. Tahun yang persis tidak diketahui. Perlu diketahui orang-orang Tionghoa yang pada waktu itu datang umumnya bukan orang terpelajar, hanya sedikit saja yang tahu tulis menulis, sehingga tidak ada catatan-catatannya yang ditinggalkan. Hanya diperkirakan sekitar tahun 1450, sebab pada peta Belanda yang mencatat perkembangan kota Lasem tahun 1500, kelenteng itu telah tertera, berada di sekitar pemukiman Tionghoa disepanjang sungaii Babagan ke arah Dasun dan Soditan.




Seperti pada umumnya kelenteng, pada awalnya Ci An Gong ini berdinding dan beratap rumbia, kemudian setelah kehidupan mulai mapan dan kegiatan ekonomi berkembang, dan berhasil dikumpulkan untuk memugar dengan bentuk yang lebih baik dengan mendatangkan tukang-tukang ukir darii Guangdong (Kwitang ). Banyak dari tukang-tukang ukir ini kemudian bermukim di Kudus dan menerima murid-murid dari kalangan penduduk setempat. Nama-nama empu ukir itu seperti Tee Ling Sing dan Tiang Sun Khing diabadikan menjadi nama kampung seperti Sunggingan dan Kyai Telingsing.
Kelenteng Cu An Kiong mengalami pemugaran beberapa kali yang terakhir 1868. Sebagai salah satu kelenteng pemujaan Dewi Ma Zu yang tertua di Jawa, kelenteng ini perlu dilestarikan dan di jaga terus keberadaanya agar bisa menjadi warisan sejarah dan peringatan bagaimana perjuangan pendahulu-pendahulu kita dalam membangun kehidupan yang sejahtera dii negeri ini.

Bila tulisan kami ada yang kurang sesuai, kami mohon kritik dan saran-saran dari para pembaca demi kemajuan menggali cerita dan sejarah kelenteng. Saran dan kritik tolong ditulis dan di alamtkan ke T.I.T.D.” TRI MURTI ” JL. Dasun 19 Lasem.